Negeriku Indonesia - Sudah beberapa bulan belakangan ini pengguna jaringan selular di Indonesia kecewa dengan layanan semua operator yang ada. Tidak hanya voice melalui jaringan nirkabel atau selular yang terganggu, tetapi juga data. Sering terjadi ketika kita sedang menelepon, telepon terputus atau sambungan terganggu karena sinyal hilang atau data yang kita kirim baru terkirim keesokan harinya, baik melalui email maupun messenger lainnya, seperti Blackberry Messenger (BBM).
Sebenarnya kualitas layanan seluler hari ini kembali ke era awal dipergunakannya sistem GSM untuk telekomunikasi selular pada tahun 1993, sangat buruk. Sampai-sampai pelanggan selular menyebut GSM sebagai 'Geser Sedikit Mati'. Telepon akan terputus atau terganggu ketika kita bergeser dari posisi awal. Saat itu bisa dimaklumi karena memang jumlah menara dan pelanggan masih sedikit serta teknologi yang digunakan juga belum secanggih saat ini.
Ironisnya saat pelanggan selular sudah berjumlah lebih dari 200 juta dan dapat menggunakan jaringan selular tidak saja untuk voice tetapi data dengan gadget yang semakin canggih, kemampuan operator selular menurun. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di industri telko saat ini? Apakah industri telko Indonesia masih merupakan sektor industri primadona atau sudah menjad sunset industry?
Persoalan Telko
Di Indonesia saat ini ada 10 operator selular (GSM dan CDMA) dengan total jumlah nomor yang beredar sebesar lebih dari 200 juta. Ternyata kondisi ini telah membuat pertumbuhan industri telko mencapai titik kulminasi. Sulit bagi operator untuk berkembang dan meraih untung besar, kecuali melakukan hal-hal yang merugikan konsumen, misalnya membiarkan para content provider (CP) menipu konsumen asalkan ada pemasukan bagi operator.
Situasi industri telko tersebut diperburuk dengan beberapa hambatan. Pertama, tidak adanya dukungan regulasi yang kondusif bagi industri telko. Ini disebabkan karena Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah sekitar 2 tahun ini mati suri dan kurang tanggap terhadap kebutuhan regulasi di sektor industri telko. Demikian pula dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
Kedua, situasi tersebut di atas menyebabkan Capital Expenditure (CAPEX) dari operator telko dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini rendah atau bahkan zero. Artinya para operator telko enggan melakukan investasi untuk mengejar jumlah pelanggan atau pengguna yang terdaftar. Mereka memilih membelanjakan uangnya untuk iklan. Mereka lebih bersemangat melakukan promosi secara besar-besaran, yang kadang menyesatkan publik, demi berebut pelanggan yang ada.
Ketiga, semakin maraknya pengguna gadget Blackberry, Galaxy, iPad dan sebagainya, membuat volume layanan untuk voice dan SMS yang dulu merupakan primadona pemasukan bagi operator semakin menurun. Gadget cerdas tersebut biasanya dibandrol dengan paket data yang relatif murah, jika dibandingkan dengan menggunakan voice maupun SMS.
Keempat, rakusnya Pemerintah Daerah melalui berbagai pungutan yang berlebihan dan kadang ilegal kala operator telko membangun menara, juga jadi beban tambahan industri telko. Ibaratnya sebuah pohon baru ditanam belum sempat berbuah sudah ditebang, maka pohon itu akan mati perlahan-lahan. Jadi industri telko memang sudah jadi sunset industry. Selengkapnya......

0 komentar:
Posting Komentar