Bon-bon , Alim, dan Aldi adalah mahasiswa semester satu disebuah universitas swasta yang baru saja selesai mengikuti perkuliahan perpajakan. Banyaknya materi yang diberikan dosen, membuat perut mereka terasa begitu lapar. Selesai kuliah, ketiganya memutuskan untuk mampir kesebuah restoran yang cukup terkenal disekitar kampus mereka.
Sesampainya disana, tanpa babibu lagi, ketiganya langsung masuk kedalam restoran yang sudah ramai dengan pengunjung. Setelah memiliki tempat duduk, dengan cepat alimpun langsung memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. “Mbak, sini deh,” panggil Alim cepat. “Mau pesan apa, Mas?” tanya pelayan. “Kita pesan nasi putih tiga, jus jeruk tiga, cah kangkung, ayam bakar tiga, sama gurame asam manis ya, mbak,” jawab Bon-bon. “Makan enak nih kita!” ujar Aldi.”Wuih, kayaknya kiriman uang dari kampung nambah nih?” ledek Alim. “Ya gitu deh.he…he…,” jawab bon-bon bangga.
Singkat cerita, akhirnya pesanan mereka pun datang. Belum sampai 15 menit, makanan sudah ludes tidak tersisa. Bon-bon pun langsung menghabpiri meja kasir untuk membayar uang yang dibawa bon-bon tidak cukup untuk membayar semua makanan. Bon-bon tidak mau kalau sampai temannya tahu ternyata uangnya kurang. Akhirnya,Bon-bon pun memutar otak, Bon-bon menggunakan alasan pajak yang tertera didalam bill tersebut, untuk mengurangi jumlah tagihannya.
“Mbak,kok nasinya kena pajak juga sih? Nasi kan dari beras, beras kan bukan objek pajak!” protes Bon-bon kesal. “Maaf Mas, mungkin yang Mas maksut itu Objek PPN. Kalau yang itu, beras memang bukan objek PPN. Tapi pajak yang dimaksut di bill kan PB satu Mas, alias Pajak Pembangunan atau Pajak Restoran,” jelas penjaga kasir. “Saya engga percaya, sekarangkan banyak penipuan, siapa tahu Mbak mau ikutan nipu juga. Pokoknya saya engga mau bayar penuh,TITIK,”teriak Bon-bon.
Semua mata langsung tertuju kearah Bon-bon yang baru saja berteriak didepan meja kasir. “Tapi saya tidak bohong Mas,suweer deh,” pungkas petugas kasir tersebut. “Tetap aja saya enggak percaya. Kalau Mbak terbukti bohong, saya enggak mau bayar dan sebagai hukumannya, Mbak harus nyuci piring bekas makan semua pengunjung,”tantang Bon-bon. “Kalau saya tidak terbukti bohong?” petugas kasir kembali menantang.”Saya deh yang nyuci piringnya,” balas Bon-bon.
Mendengar kegaduhan yang terjadi, akhirnya sang Manajer restoran menghampiri mereka. Dengan wibawa, Manajerpun bertanya kepada petugasnya, “Riss…,” panggil Manajer kepada pegawainya.”Iya Pak,”jawab petugas kasir. “Ada masalah apa? Kok ramai?” tanya manajer. “Itu, pegawai Bapak penipu!” jawab Bon-bon kesal. “Maksut Mas?” tanya Manajer kembali. “Masa, nasi kena pajak 10%. Padahal kan beras bukan objek PPN,” adu Bon-bon.
Dengan santai Manajerpun angkat bicara, “Oh, jadi dari tadi yang diributkan init oh? Jadi gini Mas, memang beras itu bukan objek PPN, tapi pajak Restoran. Kalau Mas enggak mau bayar, bagaimana Saya bisa bayar Pajak Restoran ke kas daerah? Masa, saya yang harus nombokin?” jelas manajer. “Tapi kan, Pak?” sanggah Bon-bon. “Tapi kan, loe yang salah Bon.Loe nggak denger yah, tadi bu Meta bilang kalau jenis pajak itu bukan cuma pajak pusat doing, tapi ada pajak daerah juga dan salah satunya ya pajak Restoran! Jadi setiap kita makan di Restoran yang pemiliknya udah jadi PKP, ya siap-siap aja makanan kita dipajakin, apalagi Restoran sekeren ini?” jelas Aldi.
Petugas kasir dan Manajer Restoran hanya tersenyum. “Terus jadinya, mau gimana nih Mas?” tanya Manajer. “Gimana,ya? Tapi uang saya kurang Pak,”jawab Bon-bon malu. “Oh,jadi loe kayak gini gara-gara uang loe kurang? Gimana sih loe Bon, gue kan enggak bawa duit,”ujar Aldi. “Gue juga Bon,” sambut Alim. “ Jadi gimana, Mas? Sebenarnya sih, kita bisa ngasih gratisan,” ujar Manajer. “Beneran,Pak?”Tanya Bon-bon senang. “Beneran. Tapi, kalian bantuin pegawai saya, cuci piring kotor yang masih menumpuk di dapur,” jelas Manajer.” Ja….ja…jangan,Pak…,”protes ketiganya kompak. “Yuk, saya tunjukin dapurnya,” ajak manajer.


0 komentar:
Posting Komentar